Jumat, 26 Desember 2014

Analisis Fenomena Berdasarkan Teori McClelland

Halooo semuanyaaa…  pada kesempatan ini saya akan membuat postingan yang berkaitan dengan tugas Psikologi Kepribadian II. Nah kali ini saya akan membahas mengenai fenomena yang berkaitan dengan teori kebutuhan McClelland. Yuk langsung saja di baca yaa……… Semoga bermanfaat :)

Kegigihan Pejabat Pemda Tunanetra

Di zaman sekarang, pendidikan sangatlah penting bagi seluruh lapisan masyarakat.  Tak terkecuali mulai dari kalangan bawah,menengah,hingga kalangan atas. Begitu juga dengan saudara-saudara kita yang memiliki keterbatasan. Baik secara fisik maupun materi.  Mereka juga pasti ingin merasakan pendidikan yang layak juga.
Seperti halnya di daerah Kuningan, Jawa Barat. Seorang pria bernama Elon terlahir dengan enderita cacat tunanetra. Walaupun ia cacat, tetapi keinginannya untuk bersekolah tidak pernah padam. Dan ia pun sangat terkenal pintar ketika masih bersekolah dahulu. Setelah tamat SMA pada tahun 1991, Elon pun aktif mengikuti beberapa organisasi sosial dan kepemudaan yang memperjuangkan nasib para penyandang cacat. kerja Elon untuk para prnyandang cacat segera endapat pengakuan. Ia terpilih menjadi pemuda pelopor tingkat nasional mendapat Bintang Palapa Karya pada tahun 1994. Elon memang luar biasa. Uang dari hadiah penghargaan tidak ia gunakan untuk diri sendiri, namun dimanfaatkan untuk mendirikan sekolah luar biasa gratis bernama Taruna Mandiri. Elon juga membangun asrama bagi penyandang cacat yang tidak mampu. Selain seorang pejabat pemda, Elon sudah biasa menjadi motivator, memberi semangat pada penyandang cacat agar pantang menyerah. Sepak teruang Elon pun mendapat perhatian Pemda Kuningan, setelah menjadi tenaga honorer di sekretariat daerah pada tahun 2005 lalu. Ia diangkat jadi Pegawai Negeri Sipil (PNS). Elon tidak pernah berhenti belajar. Ia kuliah hingga selesai program S2. Dengan berbagai prestasi, Elon akhirnya dipercaya jado pejabat di kantor Pemda Kuningan. Walau tidak bisa melihat, Elon menjalankan tugasnya dengan baik. Ia pun mampu memberi pengarahan pada 8 orang bawahan langsungnya. Berkat Elon, sejumlah sekolah luar biasa dan pusat layanan penyandang autisme bisa berdiri. elon kini berusia 40 tahun, cita-cita yang ia inginkan agar para pemnandang cacat bisa berkarya sepenuhnya sejajar dengan siapa saja. "Yang paling penting beri kesempatan pada kami, bukan belas kasihan. Berikan kesempatan sesuai kompetensi," ujar Elon.

Teori Kebutuhan McClelland
Teori motivasi McClelland merupaan salah satu teori kebutuhan selain teori hierarki kebutuhan Maslow,ERG, dan teori dua faktor Herzberg. Menurut Robbins dan Judge (2007 : 260), dari empat teori motivasi kebutuhan, teori McClelland adalah teori yang paling banyak mendapatkan dukungan terutama kaitannya dengan pencapaian dan produktivitas. Teori kebutuhan McClelland menyatakan bahwa pencapaian, kekuasaan/kakuatandan hubungan merupakan tiga kebutuhan penting yang dapat membantu menjelaskan motivasi. Kebutuhan pencapaian merupakan dorongan untuk melebihi, mencapai standar-standar, dan berjuang untuk berhasil. Kebutuhan kekuatan dapat membuat orang lain berperilaku sedemikian rupa sehingga mereka tidak akan berperilaku sebaliknya, dan kebutuhan hubungan merupakan keinginan antar personal yang ramah dan akrab dalam lingkungan organisasi.

A. Need For Achievement
Kebutuhan akan prestasi merupakan dorongan untuk mengungguli, berprestasi sehubungan dengan seperangkat standar, bergulat untuk sukses. Kebutuhan ini pada hierarki Maslow terletak antara kebutuhan akan penghargaan dan kebutuhan akan aktualisasi diri. Ciri-ciri individu yang menunjukkan orientasi tinggi antara lain bersedia menerima resiko yang relatif tinggi, keinginan untuk mendapatkan umpan balik tentang hasil kerja mereka, keinginan mendapatkan tanggung jawab pemecahan masalah.

B. Need For Power
Kebutuhan akan kekuasaan adalah kebutuhan untuk membuat orang lain berperilaku dalam suatu cara dimana orang-orang itu tanpa dipaksa tidak akan berperilaku demikian atau suatu bentuk ekspresi dari individu untuk mengendalikan dan mempengaruhi orang lain. Kebutuhan ini pada teori Maslow terletak antara kebutuhan akan penghargaan dan kebutuhan aktualisasi diri. McClelland menyatakan bahwa lebutuhan akan kekuasaan sangat berhubungan dengan kebutuhan untuk mencapai suatu posisi kepemimpinan.

C. Need For Affiliation
Kebutuhan akan afiliasi adalah hasrat untuk berhubungan antar pribadi yang ramah dan akrab. Individu merefleksikan keinginan untuk mempunyai hubungan yang erat, kooperatif dan penuh sikap persahabatan dengan pihak lain. Individu yang mempunyai kebutuhan afiliasi yang tinggi umumnya berhasil dalam pekerjaan yang memerlukan interaksi sosial yang tinggi.
Karakteristik dan sikap motivadi prestasi ala McClelland :
a. Pencapaian adalah lebih penting dari materi
b. Mencapai tujuan atau tugas memberikan kepuasan pribadi yang lebih besar daripada menerima    
    pujian atau pengakuan.
c. Umpan balik sangat penting karena merupakan ukuran sukses

Analisis Kasus Berdasarkan Teori McClelland

Dari kasus diatas jika dianalisis berdasarkan teori McClelland dimana seseorang memiliki dorongan untuk melakukan sesuatu, seperti halnya Elon, ia hendak memenuhi Need For Achievement dan Need Fo Affiliation.
Jika dianalisis berdasarkan Need For Achievementnya, ini terlihat karena Elon tidak pernah menyerah dalam mencapai pendidikan nya hingga jenjang yang lebih tinggi lagi. Dan akhirnya kegigihan Elon pun tercapai sampai ia telah berhasil dalam pendidikannya hingga S2. Dalam hal ini terlihat bahwa, ia ingin membuktikan kepada siapa pun bahwa orang yang menyandang cacat juga bisa berprestasi.
Jika kita lihat dari Need For Affiliation, Elon dengan keterbatasannya sangat peduli dengan rekan-rekannya, terutama pada penyandang cacat juga. Ini terlihat ketika ia ikut dalam berorganisasi setelah ia tamat SMA dahulu. 

Dari kasus diatas jika dianalisis berdasarkan teori McClelland dimana seseorang memiliki dorongan untuk melakukan sesuatu, seperti halnya Elon, ia hendak memenuhi Need For Achievement dan Need Fo Affiliation.
Jika dianalisis berdasarkan Need For Achievementnya, ini terlihat karena Elon tidak pernah menyerah dalam mencapai pendidikan nya hingga jenjang yang lebih tinggi lagi. Dan akhirnya kegigihan Elon pun tercapai sampai ia telah berhasil dalam pendidikannya hingga S2. Dalam hal ini terlihat bahwa, ia ingin membuktikan kepada siapa pun bahwa orang yang menyandang cacat juga bisa berprestasi.
Jika kita lihat dari Need For Affiliation, Elon dengan keterbatasannya sangat peduli dengan rekan-rekannya, terutama pada penyandang cacat juga. Ini terlihat ketika ia ikut dalam berorganisasi setelah ia tamat SMA dahulu.

Daftar Pustaka

Schultz,Duane & Schultz, Sydney Ellen. 1994. Theories Of Personality. California 
Wadsworth. Inc.
http://teorionline.net/teori-motivasi-kebutuhan-mcclelland/

Sabtu, 22 November 2014

BEASISWA DATA PRINT


Program beasiswa DataPrint telah memasuki tahun keempat. Setelah sukses mengadakan program beasiswa di tahun 2011 hingga 2013, maka DataPrint kembali membuat program beasiswa bagi penggunanya yang berstatus pelajar dan mahasiswa.  Hingga saat ini lebih dari 1000 beasiswa telah diberikan bagi penggunanya.
Di tahun 2014 sebanyak 700 beasiswa akan diberikan bagi pendaftar yang terseleksi. Program beasiswa dibagi dalam dua periode. Tidak ada sistem kuota berdasarkan daerah dan atau sekolah/perguruan tinggi. Hal ini bertujuan agar beasiswa dapat diterima secara merata bagi seluruh pengguna DataPrint.  Beasiswa terbagi dalam tiga nominal yaitu Rp 250 ribu, Rp 500 ribu dan Rp 1 juta. Dana beasiswa akan diberikan satu kali bagi peserta yang lolos penilaian. Aspek penilaian berdasarkan dari essay, prestasi dan keaktifan peserta.
Beasiswa yang dibagikan diharapkan dapat meringankan biaya pendidikan sekaligus mendorong penerima beasiswa untuk lebih berprestasi. Jadi, segera daftarkan diri kamu, klik kolom PENDAFTARAN pada web ini!
Pendaftaran periode 1 : 7 Februari – 30 Juni 2014
Pengumuman                : 10 Juli 2014

Pendaftaran periode 2   : 1 Juli – 31 Desember 2014
Pengumuman                : 12 Januari 2015
PERIODEJUMLAH PENERIMA DANA BEASISWA
@ Rp 1.000.000@ Rp 500.000@ Rp 250.000
Periode I50 orang50 orang250 orang
Periode II50 orang50 orang250 orang

Persyaratan Umum:
1.  Pelajar/mahasiswa aktif dari tingkat SMP hingga perguruan tinggi untuk jenjang D3/S1
2.  Terlibat aktif di kegiatan atau organisasi sekolah/perguruan tinggi
3.  Tidak terlibat narkoba atau pernah melakukan tindak kriminal
4.  Tidak sedang menerima beasiswa dari perusahaan lain. Jika saat ini peserta masih menerima beasiswa dari kampus, peserta berhak mengikuti pendaftaran beasiswa dari DataPrint.
5. Penerima beasiswa di periode 2 tahun 2013 tidak dapat menjadi penerima beasiswa di periode 1 tahun 2014.
Peraturan Lomba :
1.  Mengisi formulir registrasi di kolom Pendaftaran
2.  Satu nomor kupon yang terdapat di dalam produk DataPrint, hanya berlaku untuk satu kali registrasi
3.  Pendaftaran tidak dipungut biaya
4.  Isilah formulir dengan sebenar-benarnya.
5. Kolom NAMA, diisi dengan nama lengkap
6. Kolom KODE KUPON, diisi dengan kode yang tertera pada bagian belakang kupon yang ada di dalam produk DataPrint
7. Kolom EMAIL, diisi dengan email aktif yang masih berlaku
8. Kolom NO TELPON, diisi dengan no HP atau no telpon rumah yang masih aktif dan bisa dihubungi
9. Kolom JENJANG PENDIDIKAN, diisi dengan jenjang pendidikan yang sedang ditempuh saat ini.
Contoh: SMA, D3, S1
10. Kolom NAMA PERGURUAN TINGGI/SEKOLAH, diisi dengan nama sekolah/perguruan tinggi tempat kamu menuntut ilmu.
11. Kolom PRESTASI YANG PERNAH DIRAIH, diisi dengan prestasi dari kompetisi yang pernah diikuti.
Sertakan keterangan waktu dan peringkat dalam kompetisi yang kamu ikuti tersebut.Contoh: Juara Olimpiade Fisika tingkat Nasional pada tahun 2012 atau pada saat SMA
12. kolom KEGIATAN YANG PERNAH/SEDANG DIIKUTI, diisi dengan penjabaran partisipasi pendaftar beasiswa DataPrint pada kegiatan baik di dalam maupun di luar lingkungan sekolah/kampus.
13. Kolom LAMA MENGGUNAKAN DATAPRINT, diisi dengan waktu penggunaan produk DataPrint.
Isi kolom ini dengan sebenar-benarnya karena kolom ini TIDAK MEMPENGARUHIpenilaian.
14. Kolom MENGETAHUI INFORMASI BEASISWA, diisi dengan narasumber awal yang memberitahu mengenai program beasiwa pendidikan DataPrint
15. Kolom NILAI RAPORT (BAGI PELAJAR dan MAHASISWA BARU), diisi dengan total nilai secara keseluruhan beserta jumlah mata pelajaran pada semester terakhir. Ingat, kolom ini hanya diisi oleh pelajar atau mahasiswa baru yang belum mempunyai IP.
16. Kolom IPK TERAKHIR (BAGI MAHASIWA), diisi dengan nilai IPK atau jika belum memiliki IPK boleh diisi dengan nilai IP semester terakhir. Tuliskan juga semester yang sedang ditempuh. Ingat, kolom ini hanya diisi oleh mahasiswa, bukan pelajar.
17. Kolom URL BLOG, diisi dengan copy URL blog kamu yang memuat informasi mengenai beasiswa DataPrint bukan essay. Isi kolom ini jika kamu memiliki blog. Pengisian pada kolom ini akan menambah poin pada penilaian.
18. Kolom ESSAY, diisi dengan karya tulis/essay berisi hasil pemikiran kamu sendiri sesuai dengan tema yang telah ditentukan. Panjang penulisan minimal 100 kata, maksimal 500 kata. Tema akan berubah setiap periode.Dilarang mengcopy paste tulisan orang lain. Jika bermaksud untuk menyadur atau mengutip tulisan orang lain, tuliskan juga sumbernya.
19.  Beasiswa akan dibagi menjadi 2 periode.
20.  Jika gagal di periode pertama, peserta BOLEH mendaftarkan diri di periode selanjutnya.
21.  Penerima beasiswa yang telah mendapat dana beasiswa di satu periode TIDAK DAPAT menjadi penerima beasiswa di periode selanjutnya.
22.  Waktu per periode:
Periode 1: 7 Februari  – 30 Juni
Periode 2: 1 Juli – 31 Desember
22.  Perincian pemenang per periode sebagai berikut:
PERIODEJUMLAH PENERIMA DANA BEASISWA
@ Rp 1.000.000@ Rp 500.000@ Rp 250.000
Periode I50 orang50 orang250 orang
Periode II50 orang50 orang250 orang
23.  Penerima beasiswa akan diseleksi (bukan diundi) oleh tim dari DataPrint.
24.  Panitia tidak menghubungi penerima beasiswa. Nama penerima beasiswa  dapat dilihat di website ini, website DataPrint www.dataprint.do.id atau diwww.facebook.com/dataprintindonesia . Simpan fotokopi raport terakhir atau IPK terakhir dan kupon sebagai bukti sah verifikasi jika Anda terseleksi sebagai penerima dana beasiswa.
25.  Dana beasiswa akan diberikan sekaligus dan secara langsung kepada penerima di periode tersebut.
26.  Dana beasiswa akan dikirimkan dalam jangka waktu paling lambat satu bulan setelah pengumuman dan atau setelah selesainya pemberkasan dari para penerima beasiswa.
27.  Beasiswa akan ditransfer melalui bank BCA. Bagi penerima beasiswa yang menggunakan rekening bank lain, biaya administrasi sebesar Rp 5.000 ditanggung penerima (beasiswa akan dipotong Rp 5.000).
28.  Penerima beasiswa akan diumumkan di website DataPrint www.dataprint.co.id ,  page Facebook DataPrint www.facebok.com/dataprintindonesia danwww.beasiswadataprint.com

Jumat, 06 Juni 2014

ANDRAGOGI dan PEDAGOGI

Pengalaman Pedagogi
            Semua orang tentunya pasti mengalami pengalaman pedagogi ini. Karena pedagogi berlaku mulai ketika kita TK hingga SMA. Dikatakan pedagogi, karena pedagogi memiliki arti pembelajaran yang dikhususkan untuk anak-anak.Dimana, perkembangan kognitifnya belum matang.Sehingga belum bisa belajar mandiri. Dan siswanya sangat tergantung pada guru. Ketika SD dulu, kita masih dirahakan oleh guru kita. Mulai dari cara duduk yang baik dan benar ketika didalam kelas, jangan ribut di dalam kelas. Selain itu, dalam proses pembelajaran kita juga masih di layani oleh guru, misalnya pada hari senin, ada belajar matematika dan mempelajari tentang penjumlahan. Nah, guru memberikan materi hanya sebatas penjumlahan nya saja, tidak lebih dari itu. Karena kita belajar sesuai dengan apa yang telah di jadwalkan sebelumnya. Selain itu, ketika mengajar di kelas, guru mengajar dengan metode satu pusat saja, artinya materi pelajaran hanya di peroleh dari guru itu sendiri.  Kalau pada saat SMP, juga sama. kita masih diatur dan diarahkan oleh guru, walaupun kadang guru sudah mulai memberikan tugas-tugas yang berkaitan dengan materi, namun sebelum di beri tugas, kita di beri teori pembelajaran terlebih dahulu. Ketika SMA, juga sama, guru memegang peranan penting dalam proses pembelajaran. Namun, terkadang di SMA sebagian guru sudah mulai memberlakukan sitem pembelajaran aktif kepada siswanya,misalnya ketika guru selesai menjelaskan, ia akan memberi pertanyaan atau siwanya yang di minta untuk bertanya. Ini memberikan peluang kepada siwa untuk belajar menjadi siswa yang aktif.

Pengalaman Andragogi

        Andragogi sendiri merupakan pembelajaran untuk orang dewasa. Sesuai dengan kematangan kognitifnya, pembelajaran andragogi lebih mengutamakan pengalaman, keaktifan dan kemandirian. Pengalaman andragogi ini di peroleh ketika di perguruan tinggi. Pada saat di perguruan tinggi, sistem pembelajarannya tidak lagi seperti pada saat kita waktu SD, SMP ataupun SMA. Kita telah diruntut untuk lebih aktif,kompetitif dan mandiri. Dalam sistem pembelajarannya, dosen disini sebagai fasilitator. Dimana, semua mahasiswa nya berperan sebagai sumber belajar. Ketika di perguruan tinggi, saya mendapatkan banyak sekali perubahan-perubahan yang terjadi. Misalnya dari proses pembelajaran. Tidak seperti di SMA yang sebagian besar materinya dijelaskan oleh guru, namun di perguruan tinggi, proses pembelajarannya adalah dengan metode presentasi dari mahasiswa dan akan lebih di jelaskan lahi oleh dosen. Ketika ada hal-hal yang tidak kita ketahui, kita bisa lebih terbuka untuk bertanya. Dan sebagai mahasiswa, kita juga dituntut untuk belajar lebih mandiri lagi. Ketika pelajaran yang didapat merasa belum mengerti, kita bisa mencari materi dari sumber-sumber lain atau bisa juga dengan berdiskusi.

Apa yang membedakan antara pedagogi dan andragogi? 

Pertama, jika dilihat dari sisi siswa atau pelajar
Dalam pedagogi, siswa sangat tergantung pada guru. Guru mengasumsikan dirinya bahwa ia yang bertanggung jawab penuh terhadap apa yang akan diajarkan dan bagaimana mengajarkannya.Guru yang mengevaluasi hasil belajar. Sementara dalam andragogi, siswa kerap mandiri, siswalah yang mengarahkan dirinya untuk belajar apa dan bagaimana. Jadi, siswa yang bertanggung jawabatas belajarnya sendiri, bukan guru, guru hanya sebatas fasilitator. Begitu pula dengan evaluasi, siswa perlu diberikan peluang yang cukup besar untuk melakukan evaluasi diri (Self-assessment).

Kedua, dilihat dari sisi peran pengalaman siswa atau pelajar
Dalam pedagogi, pengalaman guru yang lebih dominan. Siswa mengikuti aktifitas belajar, dimana ia sendiri tidak banyak mengalami sesuatu, kecuali sebagai peserta pasif. Sedangkan dalam andragogi, pelajar mengalami sesuatu secara leluasa. Pengalaman menjadi sumber utama mengidentifikasi penguasaan dirinya akan sesuatu. Satu sama lain saling berperan sebagai sumber belajar.

Ketiga, dilihat dari sisi orientasi terhadap belajar
Da;am pedagogi, pembelajaran dianggap sebagai proses perolehan suatu pengetahuan yang telah ditentukan sebelumnya. Materi belajar telah diurutkan secara sistematis dan logis sesuai dengan topik-topik mata pelajaran. Sedangkan dalam andragogi, sebaliknya. Pelajar harus memiliki keinginan untuk menguasai suatu pengetahuan / keterampilan tertentu, atau pemecahan masalah tertentu yang dapat membuat dirinya sendiri puas. Pelajarn harus relevan dengan kebutuhan tugas nyata pemelajaritu sendiri. Mata pelajar didasarkan atas situasi pekerjaan atau kebutuhan real pelajar, bukan berdasarkan topik-topik tertentu yang sudah ditentukan.

Keempat, dilihat dari sisi motivasi belajar
Dalam pedagogi, motivasi datang secara eksternal, artinya disuruh atau diwajibkan atau dituntut untuk mengikutisuatu pendidikan tertentu. Dalam andragogi, motivasi lebih bersifat internal, datang dari diri sendiri sebagai wujud dari aktualisasi diri, penghargaan diri.

Rabu, 04 Juni 2014

Yuk bersikap Asertif ............

Secara sederhana, asertif adalah suatu ciri kepribadian interpersonal di mana orang yang memilikinya mampu menyatakan pendapatnya, dengan cara-cara yang tidak menyakiti hati orang lain. Untuk lebih jelasnya, berikut  perbedaan antara perilaku yang agresif, asertif dan non asertif.
Perilaku agresi biasanya ditandai dengan :
  1. Mempertahankan hak Anda sendiri sehingga melanggar hak-hak orang lain.
  2. Mengabaikan dan menolak kepercayaan, opini, perasaan, keinginan, emosi, sikap, data, informasi atau keterlibatan dari orang lain.
  3. Mengekspresikan atau menuntut perhatian terhadap pendapat, kebutuhan atau perasaan Anda dengan cara yang tidak tepat.
 Perilaku asertif, ciri-cirinya :
  1. Mempertahankan hak sendiri akan tetapi tidak sampai mengabaikan atau mengancam hak orang lain.
  2. Melibatkan perasaan dan kepercayaan orang lain sebagai bagian dari interaksi dengan mereka.
  3. Mengekspresikan perasaan dan kepercayaan sendiri dengan cara yang terbuka, langsung, jujur dan tepat.
Non asertif , ciri-cirinya ;
  1. Mengabaikan hak diri sendiri, gagal untuk mempertahankan diri sendiri, dan membiarkan orang lain mengabaikan hak diri sendiri.
  2. Memaafkan atau `memadamkan` ide, perasaan, sikap, kepercayaan atau informasi diri sendiri.
  3. Menghindar dari pengekspresian perasaan atau kebutuhan diri sendiri pada situasi di mana Anda justru diharapkan untuk itu.
Memang susah untuk berperilaku asertif, karena didalam kehidupan sehari-hari kita, kita tidak ingin menyakiti perasaan orang disekitar kita dengan menolak ajakan mereka. Ada konsekuensi yang kita terima jika kita berperilaku asertif :

Konsekuensi positif:
  1. Membuat Anda lebih mudah memberi dan menerima pujian. Hak Anda dihargai karena Anda juga menghargai hak orang lain.
  2. Dapat menghindarkan diri dari orang yang menginginkan pertolongan yang tidak masuk akal dari Anda.
  3. Dapat mengatasi gangguan yang kecil dan mencegahnya untuk menjadi konflik.
  4. Menjadi seseorang yang independen yang berperan dalam perasan, waktu dan akal Anda sendiri.
  5. Menjadi diri sendiri, percaya dalam menghadapi orang lain.
 Konsekuensi negatif:
  1. Kehidupan seseorang yang asertif tidak selalu berjalan mulus.
  2. Seringkali dipandang sebagai orang yang kasar atau kurang sopan.
  3. Bagaimana kita menyuarakan pendapat kita dapat dianggap mendorong orang lain untuk melakukan sesuatu.
Namun, walaupun begitu, perilaku asertif lah yang sangat baik untuk diri kita, karena dengan perilaku asertif, kita bisa menjadi diri kita sendiri, dan lebih percaya diri lagi.

Selasa, 13 Mei 2014

INTELIGENSI DAN IQ

Menurut David Wechsler, inteligensi adalah kemampuan untuk bertindak secara terarah, berpikir secara rasional, dan menghadapi lingkungannya secara efektif. secara garis besar dapat disimpulkan bahwa inteligensi adalah suatu kemampuan mental yang melibatkan proses berpikir secara rasional. Oleh karena itu, inteligensi tidak dapat diamati secara langsung, melainkan harus disimpulkan dari berbagai tindakan nyata yang merupakan manifestasi dari proses berpikir rasional itu.
Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi inteligensi adalah :
Faktor bawaan atau keturunan
Penelitian membuktikan bahwa korelasi nilai tes IQ dari satu keluarga sekitar 0,50. Sedangkan di antara 2 anak kembar, korelasi nilai tes IQnya sangat tinggi, sekitar 0,90. Bukti lainnya adalah pada anak yang diadopsi. IQ mereka berkorelasi sekitar 0,40 - 0,50 dengan ayah dan ibu yang sebenarnya, dan hanya 0,10 - 0,20 dengan ayah dan ibu angkatnya. Selanjutnya bukti pada anak kembar yang dibesarkan secara terpisah, IQ mereka tetap berkorelasi sangat tinggi, walaupun mungkin mereka tidak pernah saling kenal.
Faktor lingkungan
Walaupun ada ciri-ciri yang pada dasarnya sudah dibawa sejak lahir, ternyata lingkungan sanggup menimbulkan perubahan-perubahan yang berarti. Inteligensi tentunya tidak bisa terlepas dari otak. Perkembangan otak sangat dipengaruhi oleh gizi yang dikonsumsi. Selain gizi, rangsangan-rangsangan yang bersifat kognitif emosional dari lingkungan juga memegang peranan yang amat penting.
Inteligensi dan IQ
Orang seringkali menyamakan arti inteligensi dengan IQ, padahal kedua istilah ini mempunyai perbedaan arti yang sangat mendasar. Arti inteligensi sudah dijelaskan di depan, sedangkan IQ atau tingkatan dari Intelligence Quotient, adalah skor yang diperoleh dari sebuah alat tes kecerdasan. Dengan demikian, IQ hanya memberikan sedikit indikasi mengenai taraf kecerdasan seseorang dan tidak menggambarkan kecerdasan seseorang secara keseluruhan.
Skor IQ mula-mula diperhitungkan dengan membandingkan umur mental (Mental Age) dengan umur kronologik (Chronological Age). Bila kemampuan individu dalam memecahkan persoalan-persoalan yang disajikan dalam tes kecerdasan (umur mental) tersebut sama dengan kemampuan yang seharusnya ada pada individu seumur dia pada saat itu (umur kronologis), maka akan diperoleh skor 1. Skor ini kemudian dikalikan 100 dan dipakai sebagai dasar perhitungan IQ. Tetapi kemudian timbul masalah karena setelah otak mencapai kemasakan, tidak terjadi perkembangan lagi, bahkan pada titik tertentu akan terjadi penurunan kemampuan.
Pengukuran Inteligensi
Pada tahun 1904, Alfred Binet dan Theodor Simon, 2 orang psikolog asal Perancis merancang suatu alat evaluasi yang dapat dipakai untuk mengidentifikasi siswa-siswa yang memerlukan kelas-kelas khusus (anak-anak yang kurang pandai). Alat tes itu dinamakan Tes Binet-Simon. Tes ini kemudian direvisi pada tahun 1911.
Tahun 1916, Lewis Terman, seorang psikolog dari Amerika mengadakan banyak perbaikan dari tes Binet-Simon. Sumbangan utamanya adalah menetapkan indeks numerik yang menyatakan kecerdasan sebagai rasio (perbandingan) antara mental age dan chronological age. Hasil perbaikan ini disebut Tes Stanford_Binet. Indeks seperti ini sebetulnya telah diperkenalkan oleh seorang psikolog Jerman yang bernama William Stern, yang kemudian dikenal dengan Intelligence Quotient atau IQ. Tes Stanford-Binet ini banyak digunakan untuk mengukur kecerdasan anak-anak sampai usia 13 tahun.
Salah satu reaksi atas tes Binet-Simon atau tes Stanford-Binet adalah bahwa tes itu terlalu umum. Seorang tokoh dalam bidang ini, Charles Sperrman mengemukakan bahwa inteligensi tidak hanya terdiri dari satu faktor yang umum saja (general factor), tetapi juga terdiri dari faktor-faktor yang lebih spesifik. Teori ini disebut Teori Faktor (Factor Theory of Intelligence). Alat tes yang dikembangkan menurut teori faktor ini adalah WAIS (Wechsler Adult Intelligence Scale) untuk orang dewasa, dan WISC (Wechsler Intelligence Scale for Children) untuk anak-anak.
Di samping alat-alat tes di atas, banyak dikembangkan alat tes dengan tujuan yang lebih spesifik, sesuai dengan tujuan dan kultur di mana alat tes tersebut dibuat.
Inteligensi dan Bakat
Inteligensi merupakan suatu konsep mengenai kemampuan umum individu dalam menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Dalam kemampuan yang umum ini, terdapat kemampuan-kemampuan yang amat spesifik. Kemampuan-kemampuan yang spesifik ini memberikan pada individu suatu kondisi yang memungkinkan tercapainya pengetahuan, kecakapan, atau ketrampilan tertentu setelah melalui suatu latihan. Inilah yang disebut Bakat atau Aptitude. Karena suatu tes inteligensi tidak dirancang untuk menyingkap kemampuan-kemampuan khusus ini, maka bakat tidak dapat segera diketahui lewat tes inteligensi.
Alat yang digunakan untuk menyingkap kemampuan khusus ini disebut tes bakat atau aptitude test. Tes bakat yang dirancang untuk mengungkap prestasi belajar pada bidang tertentu dinamakan Scholastic Aptitude Test dan yang dipakai di bidang pekerjaan adalah Vocational Aptitude Test dan Interest Inventory. Contoh dari Scholastic Aptitude Test adalah tes Potensi Akademik (TPA) dan Graduate Record Examination (GRE). Sedangkan contoh dari Vocational Aptitude Test atau Interest Inventory adalah Differential Aptitude Test (DAT) dan Kuder Occupational Interest Survey.
Inteligensi dan Kreativitas
Kreativitas merupakan salah satu ciri dari perilaku yang inteligen karena kreativitas juga merupakan manifestasi dari suatu proses kognitif. Meskipun demikian, hubungan antara kreativitas dan inteligensi tidak selalu menunjukkan bukti-bukti yang memuaskan. Walau ada anggapan bahwa kreativitas mempunyai hubungan yang bersifat kurva linear dengan inteligensi, tapi bukti-bukti yang diperoleh dari berbagai penelitian tidak mendukung hal itu. Skor IQ yang rendah memang diikuti oleh tingkat kreativitas yang rendah pula. Namun semakin tinggi skor IQ, tidak selalu diikuti tingkat kreativitas yang tinggi pula. Sampai pada skor IQ tertentu, masih terdapat korelasi yang cukup berarti. Tetapi lebih tinggi lagi, ternyata tidak ditemukan adanya hubungan antara IQ dengan tingkat kreativitas.
Para ahli telah berusaha mencari tahu mengapa ini terjadi. J. P. Guilford menjelaskan bahwa kreativitas adalah suatu proses berpikir yang bersifat divergen, yaitu kemampuan untuk memberikan berbagai alternatif jawaban berdasarkan informasi yang diberikan. Sebaliknya, tes inteligensi hanya dirancang untuk mengukur proses berpikir yang bersifat konvergen, yaitu kemampuan untuk memberikan satu jawaban atau kesimpulan yang logis berdasarkan informasi yang diberikan. Ini merupakan akibat dari pola pendidikan tradisional yang memang kurang memperhatikan pengembangan proses berpikir divergen walau kemampuan ini terbukti sangat berperan dalam berbagai kemajuan yang dicapai oleh ilmu pengetahuan.

Minggu, 20 April 2014

Laporan Hasil Observasi Sekolah


Laporan Hasil Observasi Kel.4



Saat diberikan tugas kelompok Psikologi Pendidikan untuk melakukan observasi sekolah, kami tentunya memikirkan apa saja hal-hal yang perlu dilakukan, seperti meminta surat izin dari fakultas serta meminta izin kepada sekolah yang bersangkutan, dsb. Banyak kendala- kendala yang kami hadapi, seperti penolakan observasi dari pihak sekolah yang kami datangi, juga harapan yang diberikan pihak sekolah yang tak kunjung ada, pengeluaran surat yang tidak cepat mengakibatkan proses surat izin terhadap pihak sekolah menjadi lama untuk di proses, dan jadwal kuliah yang padat, tetapi kami menghadapi semuanya dengan baik dan kami pun memberikan usaha yang semaksimal mungkin untuk tugas ini, walaupun hasilnya masih jauh dari sempurna. Dengan keinginan kami untuk mengerjakan tugas yang diberikan oleh dosen pengampu dengan bagus, maka kami termotivasi untuk melakukannya dengan sepenuh hati dan semaksimal mungkin dengan "motivasi ekstrinsik yaitu melalukan sesuatu untuk mendapatkan sesuatu yang lain (cara mencapai tujuan)", dimana tujuan kami adalah menyelesaikan tugas dengan tepat waktu, dan juga dapat merangkum semua kegiatan observasi dengan baik dan benar. Setiap anggota kelompok sangat memberikan peran dalam obervasi ini, seperti memberikan ide-ide, dsb. Setiap anggota juga sangat berperan aktif dalam pelaksanaan observasi dan dalam merangkum hasil observasi.

Pembagian tugas dalam kelompok :
·         Trini A S         : Dokumentasi dan merangkum observasi
·         Nurlina Dewipa    : Merangkum observasi
·         Susi Astriani     : Menyediakan bahan observasi dan merangkum observasi
·         Rizki Situmorang  : Merangkum observasi
·         Nadine Lobian     : Proses pelaksanaan observasi dan merangkum observasi

Dengan adanya pembagian tugas pada masing-masing anggota kelompok kami pun dapat melaksanakan tugas observasi ke sekolah dengan baik dengan usaha yang telah kami berikan semaksimal mungkin.

Ada pun teori-teori yang kami dapat dari mata kuliah Psikologi Pendidikan yang dapat dikaitkan kedalam proses observasi yang kami lakukan adalah :

1.      Teori Atribusi
Dalam usaha kami memahami perilaku dan kinerja  yang telah kami lakukan, kami termotivasi untuk menemukan  sebab-sebab yang mendasarinya.
Dalam suatu cara, kami pada akhirnya dapat menemukan sekolah yang bisa diobservasi karena apa? Apakah karena kami yang giat mencari sekolah-sekolahnya, ataukah memang sekolah yang kami datangi selalu bersedia untuk dimintai observasi. Karena beberapa hal yang kami anggap sebagai penyebab kesuksesan atau kegagalan adalah kemampuan kami dalam menyelesaikan observasi ini, usaha kami sejauh mana dalam memaksimalkannya, keberuntungan atas sekolah yang bersedia di observasi, suasana hati para anggota kelompok dalam melaksanakan tugas, dan bantuan-bantuan dan sokongan motivasi dari orang-orang yang berada di sekitar kami.

2.      Self-Efficacy
Dari kelompok juga harus memiliki self-efficacy, kelompok kami harus memiliki keyakinan  bahwa kami bisa menguasai situasi dan memproduksi hasil positif, agar semua yang direncanakan dapat kami realisasikan. Self-efficacy termasuk motivasi terbesar dalam kelompok kami, agar tidak terdengarnya ada kata “ketidakberdayaan” dari kelompok kami.

3.      Motivasi untuk Menguasai
Kelompok kami berusaha sebaik mungkin untuk berfokus pada tugas-tugas yang diberikan. Bagaimana agar kami selalu punya sikap positif untuk mampu menyelesaikan tugas-tugas yang diberikan. Agar tugas pendidikan selesai dengan baik tanpa melalaikan tugas-tugas lainnya. Kami menelaah setiap pekerjaan yang akan kami lakukan, dan menyesuaikan waktu yang kami punya. Kami juga memiliki referensi dari senior yang telah melakukan tugas ini terlebih dahulu, sebagai sumber pengetahuan untuk membuka pemikiran kelompok kami.

Kami melakukan observasi di Sekolah Dasar (SD) yaitu SDN 060921. Disaat melakukan observasi proses belajar mengajar di dalam kelas, kami dapat merangkum hasil observasi dan mengaitkannya ke dalam teori-teori belajar yang ada. Belajar adalah suatu proses yang kompleks yang terjadi pada diri setiap orang sepanjang hidupnya. Kami mengobservasi murid kelas 5SD dengan jumlah siswa 28 orang, 16 siswa laki-laki dan 12 siswa perempuan. Di dalam kelas kami mengamati yang berhubungan dengan teori yaitu :

        1.      Teori Piaget 

   -  Bagi Piaget, anak adalah seseorang yang aktif, membentuk atau menyusun pengetahuan mereka sendiri pada saat mereka menyeseuaikan pikirannya sebagaimana terjadi ketika mereka mengeksplorasi lingkungan dan kemudian tumbuh secara kognitif terhadap pemikiran-pemikiran yang logis.
Jadi berdasarkan observasi yang kami amati selama proses belajar mengajar di dalam kelas, anak/siswa dituntut untuk aktif di dalam kelas seperti menjawab pertanyaan dari guru, berani tampil di depan kelas untuk berdialog.


2. Teori Vygotsky
Bagi Vygotsky, anak itu mengkonstruksi pengetahuan mereka melalui interaksi pengajaran dan sosial dengan orang dewasa (guru) asalkan orang dewasa (guru) menjembatani arti dengan bahasa dan tanda atau symbol, yang dapat mengamati anak untuk kemudian anak itu tumbuh kearah pemikiran yang verbal.
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEh6GdZ8FWdntuP-rNTMgoZqB2-IPt5p5CwKOQu2f0hJE49NdhyphenhyphenNLwzFCcXTZzOVP1JzPXXajYxLeboQ-OBBd6i8XCQesNIGO9VVsD61AAVQu7AOcwkbbrFoZpFUT1ZezYgwcJ9X5SP49ygA/s1600/IMG_8426.JPGhttps://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjxn140puB3YiX9-AZ5xdsPUtOE6AMu__NqppH7gR8E89K8_qGOfEi-FUUqydSXMS8hibOMPhnLRWTEsRNqEiFblSln3lL3EALdVPOD3MH-he5UDp22eMSBaL7hkJviG4VzjvrPK1tcGI0j/s1600/IMG_8435.JPG


Jadi berdasarkan obervasi yang kami amati selama proses belajar mengajar di dalam kelas, kami melihat bahwa anak dapat mengerti pelajaran tersebut karena gurunya dapat memberikan contoh-contoh yang sederhana. Misalnya terkait dengan kehidupan sehari-hari si anak, sehingga si anak lebih mudah menangkap pelajaran yang diberikan guru. 


Testimoni Anggota :

 KELOMPOK 4

-  Bagi saya sendiri ini merupakan pengalaman pertama saya melakukan observasi langsung ke sekolah seperti ini. Pengalaman ini merupakan pembelajaran baru bagi saya.  Saya juga dapat melihat sekolah dan kelas dari sisi pendidikan dan teori belajar nya, ini merupakan sudut pandang baru bagi saya. Dalam observasi ini juga saya jadi dituntut untuk dapat berinteraksi dengan guru dan murid secara profesional. Dan kerjasama dengan kelompok juga sangat dituntut dalam observasi ini, bagaimana kita dapat bekerjasama dan meluangkan waktu dan pikiran kita dalam kelompok, agar tercipta kerjasama yang baik dan dapat menyelesaikan tugas yang diberikan dengan semaksimal mungkin.

- Observasi ini adalah observasi yang pertama kali saya lakukan semenjak menjalani study di Fakultas Psikologi USU. Pada observasi sekolah yang pertama sekali untuk saya, halini memberikan pengalaman yang berharga. Karena dari teori yang sudah saya pelajari padamata kuliah psikologi pendidikan, maka di sinilah saya benar-benar bisa mengaplikasikan danmengetahui dengan jelas contoh real dari teori yang ada. Menurut saya, sistem pembelajaran pada sekolah dasar yang di observasi sudah sesuaidengan  tingkat  kebutuhan  siswa.  Dimana  para  siswa  masih  diajarkan  dengan  metode langsung. Selain itu, observasi ini sangat berguna untuk mengasah daya analisa kita terhadap suatu fenomena real dengan berpedoman pada teori yang sudah ada. Sehingga menurut saya sangat berguna. 

- Setelah melakukan observasi ke SDN 060921,menurut saya sekolah ini lumayan bagus tetapi masih ada kekurangan-kekurangan yang terdapat seperti; fasilitas didalam sekolah masih kurang karena disana tidak ada terdapat tempat persembahyangan,perpustakaan, lapangan sekolahnya juga kurang luas untuk siswa SD tersebut,dll. Namun Guru-guru SD nya sangat ramah dan cukup memliki keahlian ataupun potensi dalam mengajar di kelas karena guru tersebut mampu menguasai materi apa yang sedang di bawakannya di tengah kerecokan murid-muridnya dalam belajar walaupun begitu murid nya juga dapat memahami apa yang telah diajarkan gurunya.    Hal terpenting menurut saya guru hendaknya harus mengetahui bagaimana upaya mencetak lulusan yang baik dan maksimal. Guru hendaknya terus memantau kegiatan murid-muridnya, dan terus memotivasi agar terus belajar demi masa depan mereka.Cara nya dengan lebih menjalin hubungan baik anatara murid dan guru.

- Saya merasa sangat terkesan dapat diberi kesempatan dalam meyelesaikan Tugas Obsevasi yang diwajibkan dalam mata kuliah Psikologi Pendidikan karena ini menjadi pengalaman baru bagi saya dan menambah wawasan saya tentang pengajaran yang efektif terhadap anak tingkat Sekolah Dasar. Dalam observasi tersebut, saya melihat bahwa proses pengajaran yang ada di sekolah tersebut sudah cukup baik. Hal ini saya lihat melalui proses belajar mengajar yang aktif antara guru dan murid. Ketika guru bertanya, murid aktif menanggapi pertanyaan sang guru. Melalui proses belajar tersebut, menurut saya dapat mengembangkan kreatifitas anak, melatih mental anak untuk aktif dalam pembelajaran, dan mengajak anak untuk aktif. Selama observasi berlangsung, saya jadi terkenang dengan masa anak-anak saya dulu ketika saya SD, dan proses belajar mengajarnya  menurut saya agak sedikit berbeda dengan zamannya saya dulu. Karena pendidikan itu juga berkembang seiring dengan perkembangan teknologi, namun menurut saya pada dasarnya memang masih menggunakan metode lama (zaman saya SD dulu).


Nadine Lobian (13-120)
- Tugas observasi ini sangat memberikan saya pengalaman yang baru, karena sebelumnya saya belum pernah melakukannya. Observasi ini tentunya memberikan kesan-kesan tertentu. Mulai dari bagaimana susahnya mendapatkan izin dari pihak sekolah, bagaimana sekolah yang di datangi memberikan harapan palsu sehingga memperlambat proses observasi ini, tetapi pada akhirnya kelompok kami dapat menyelesaikan tugas ini dengan baik dan tepat pada waktunya. Saya pun mengamati bahwa di dalam observasi ini proses belajar mengajar antara guru dan murid masih menggunakan pengajaran langsung dimana guru bertanya dan murid pun merespon pertanyaan dari gurunya sehingga terjadi hubungan langsung antara murid dan guru. Juga dengan guru bertanya, itu akan memacu kecepatan berpikir si murid agar ia dapat menjawab pertanyaan dari guru dengan cepat. Saya juga belajar bahwa di dalam pengalaman ini kerjasama di dalam kelompok sangat dibutuhkan.Saya sangat berterimakasih kepada dosen pengampu yang telah memberikan kesempatan bagi kami untuk melakukan tugas observasi ini.





Minggu, 23 Maret 2014

Pengalaman Berdasarkan "Teori Ekologi Bronfenbrenner"

         Kelompok 4
Ketua      : Trini A S (13-086)
Anggota  : Susi Astriyani br Ginting (13-030)
                   Nurlina Dewipa (13-054)
                   Rizki Sirumorang (13-074)
                   Nadine Lobian (13-120)

          Kali ini, saya akan posting tentang teori ekologinya bronfenbrenner. Ternyata, banyak sekali hal-hal yang terjadi di dalam kehidupan kita mengenai teori tersebut.
            Teori ekologi dikembangkan oleh Urie Bronfenbrenner dimana fokus utamanya adalah pada konteks sosial dimana anak tinggal dan orang-orang yang mempengaruhi perkembangan anak. Bronfenbrenner menyatakan bahwa perilaku sesorang (misalnya perilaku malas belajar) tidak datang dengan sendirinya, melainkan dampak dari interkasi orang yang bersangkut dengan lingkungan luarnya. 
      Teori ekologi Bronfenbrenner terdiri atas lima sistem lingkungan yang merentang dari interaksi interpersonal sampai ke pengaruh kultur yang lebih luas lagi. Adapun kelima sistem tersebut adalah mikrosistem, mesosistem, eksosistem, makrosistem, dan kronosistem.


v   Mikrosistem adalah setting dimana individu menghabiskan banyak waktu. Konteks dalam sistem ini antara lain adalah keluarga, teman sebaya, sekolah dan tetangga. Dalam hal ini, individu langsung berinteraksi dengan lingkungannya. Misalnya, pada saat saya dirumah, saya berinteraksi dengan orang yang ada dilingkungan saya, baik itu orang tua, kakak, abang, adik, bahkan tetangga. Namun, ketika saya berada di kampus, saya berinterkasi dengan teman-teman saya, dll.
v  Mesosistem, adalah kaitan antar mikrosistem. Contohnya adalah pengalaman dalam sebuah keluarga yang mempengaruhi perilaku si anak. Saya misalnya, didalam keluarga orang tua mendidik saya dengan ketegasan. Sehingga, menurut pandangan orang, saya terlalu di kekang. Tetapi menurut saya itu sudah menjadi hal yang biasa.
v  Eksosistem dalam teori bronfenbrenner dilibatkan ketika pengalaman-pengalaman dalam setting sosial lain, dimana individu tidak memiliki peran yang aktif yang mempengaruhi apa yang individu alami dalam konteks yang dekat. Atau sederhananya menurut eksosistem melibatkan pengalaman individu yang tidak memiliki peran aktif didalamnya. Misalnya, ketika orang tua yang sibuk bekerja apalagi di luar kota, maka si anak mendapat perhatian yang kurang. Hal ini dapat mempengaruhi perkembangan anak tersebut..
v  Makrosistem adalah kultur yang lebih luas lagi. Kultur adalah istilah luas yang mencakup peran etnis dan faktor sosioekonomi dalam perkembangan anak. Kultur adalah konteks terluas dimana individu tinggal dengan nilai adatr istiadatnya. Kita ketahui bahwa studi lintas budaya – perbandingan antara satu kebudayaan dengan kebudayaan lain memberi informasi tentang generalitas perkembangan. Makrosistem terdiri dari ideologi negara, pemerintah, tradidsi, agama, hukum, adat istiadat, budaya, dll.

v  Kronosistem meliputi pemolaan peristiwa-peristiwa sepanjang rangkaian kehidupan dan keadaan sosiohistoris. Misal, dalam mempelajari dampak perceraian terhadap anak-anak, para peneliti menemukan bahwa dampak negatif sering memuncak pada tahun pertama setelah perceraian. Atau dengan mempertimbangkan keadaan sosiohistoris, sekarang ini, kaum perempuan tampaknya sangat didorong untuk meniti karier.
Teori ekologi ini mempelajari interelasi antar manusia dan lingkungannya. Ada 4 struktur dasar dalam konteks tersebut, yaitu sistem mikro, meso, exo, dan makro. Sistem mikro adalah keluarga dan hubungan antar anggota keluarga. Apabila anak telah sampai pada tahap sekolah, maka ia berada dalam sistem meso. Sistem exo adalah setting dimana anak tidak berpartisipasi aktif tetapi terkena pengaruh berbagai sistem seperti pekerjaan orang tua, teman dan tempat kerja orang tua serta berbagai lingkungan masyarakat lain. Sistem makro berbicara tentang budaya, gaya hidup dan masyarakat tempat si anak berada. Semua sistem tersebut saling mempengaruhi dan berdampak terhadap berbagai perubahan dan perkembangan anak. Oleh karena itu, seluruh komponen berpengaruh terhadap pengasuhan dan pendidikan anak secara holistik. Dalam perkembangannya, anak mempunyai berbagi kebutuhan yang perlu di penuhi, yaitu kebutuhan primer, yang mencakup pangan, sandang, serta kasih sayang, perhatian, rasa aman. Terpenuhinya kebutuhan tersebut akan memungkinkan anak mendapat peluang mengaktualisasikan dirinya, dan hal ini dapat mengembangkan potensinya. 

slide